IMG-LOGO
Home News PT Bayan Resource Ajak Pelaku Pariwisata dan Mice Tour Teluk Balikpapan
News

Anak Bertubuh Pendek Belum Tentu Mengalami Stunting

Stunting berkaitan dengan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi jangka panjang
Selasa, 5 Juli 2022
IMG

Dokter Spesialis Anak dr. Aini Ariefa, Sp.A, M.Ked.Klin

SAMARINDA, Perempuan.co - Dokter Spesialis Anak dr. Aini Ariefa, Sp.A,M.Ked.Klin mengatakan tidak semua anak bertubuh pendek mengalami stunting, meskipun kebanyakan anak yang mengalami stunting memiliki tubuh pendek. Dirinya menjelaskan perbedaan stunted (pendek) dan stunting (gagal tumbuh) harus dipahami secara tepat oleh guru, orang tua murid dan seluruh pemangku kepentingan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

 

“Stunting dan pendek memang sama-sama menghasilkan tubuh yang tidak terlalu tinggi. Namun, Stunting dan pendek adalah kondisi kesehatan berbeda, sehingga membutuhkan penanganan yang tidak sama. Pendek kata, Stunting adalah pendek namun pendek belum tentu Stunting,” jelasnya baru-baru ini.

 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi diseribu hari pertama kehidupan anak. Kondisi ini berefek jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia. Kekurangan gizi sejak dalam kandungan mengakibatkan pertumbuhan otak dan organ lain terganggu, yang mengakibatkan anak lebih berisiko terkena diabetes, hipertensi dan gangguan jantung. Pertumbuhan otak yang tak maksimal juga menyulitkan anak bertanggung jawab atas hidupnya sendiri kelak.

 

“Anak dengan tubuh yang pendek belum tentu mengalami gagal tumbuh. Anak pendek, normal varian seperti gen pendek, atau gangguan hormon pertumbuhan itu kategori pendek normal. Anak dengan tubuh pendek biasanya terlahir dari orangtua yang tidak terlalu tinggi. Hal berbeda biasanya dijumpai pada anak stunting yang terus mengalami keterlambatan tumbuh. Kalau Stunting pendek patologis, bisa proporsional atau disproporsional,” terang dokter anak yang praktek di RS. Korpri ini.

 

dr. Aini menerangkan, beberapa faktor Kekurangan gizi bisa jadi karena faktor lingkungan yakni kemiskinan. Kedua, karena ketidaktahuan. Selama 2 (dua) tahun posyandu vakum padahal tongkat penyambung kita ini kader –kader mereka. Ketiga, bisa jadi karena penelantaran.

 

Faktor lainnya yang menyebabkan Stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak, sambung dr. Aini.

 

Untuk mencegahnya, perbanyak makan makanan bergizi yang berasal dari buah dan sayur lokal sejak dalam kandungan. Kemudian, diperlukan pula kecukupan gizi remaja perempuan agar ketika dia mengandung ketika dewasa tidak kekurangan gizi. Selain itu butuh perhatian pada lingkungan untuk menciptakan akses sanitasi dan air bersih.

 

“Makanan yang bergizi tidak selalu mahal, makanan terbaik bagi anak usia 0-2 tahun adalah Air Susu Ibu yang tidak ada gantinya. Inisiasi menyusui dini (IMD) harus terus digalakkan kepada para Ibu. Semakin sering anak menyusu ke Ibu, semakin banyak ASI yang keluar. Gizi di dalam ASI sangat baik, karenanya untuk bayi usia 0-6 bulan harus diberi ASI tanpa campuran susu formula atau susu apapun bentuknya,” imbau Aini. (adv/cht/pt/kominfokaltim/nrh)

Share: