IMG-LOGO
Home News PT Bayan Resource Ajak Pelaku Pariwisata dan Mice Tour Teluk Balikpapan
News

BKKBN Menghimbau Masyarakat Untuk Mengatur Jarak Kelahiran Anak

Khafid : mampu mengatur jarak kelahiran merupakan program BKKBN jadi prioritas untuk stunting
Jumat, 15 Juli 2022
IMG

Sekretaris BKKBN Kaltim Al Khafid Hidayat.

SAMARINDA, Perempuan.co - Salah satu program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengharapkan kepada masyarakat yang telah berkeluarga untuk mengatur jarak kelahiran antar anak. Sebab, hal tersebut juga menjadi peluang dilahirkannya anak yang stunting.

 

“Program BKKBN yang menjadi prioritas untuk stunting yakni mampu mengatur jarak kelahiran. Soal stunting, tidak ada yang stunting jika tidak ada yang lahir. Penting bagi kita mengatur jarak agar Ibu cukup memiliki energi untuk melahirkan kembali. Kewajiban memberikan ASI tidak putus selama 2 tahun,” ungkap Sekretaris BKKBN Kaltim Al Khafid Hidayat beberapa waktu lalu.

 

Dijelaskan Khafid, jika jumlah kelahiran terlalu banyak, maka dikhawatirkan tingkat kesehatan anak menjadi rendah. Termasuk keluarga dan akan berpengaruh terhadap kehidupan anggota keluarganya di rumah tangga tersebut.

 

“Sehingga, bagi Ibu yang memiliki anak usia belum 2 (dua) tahun agar dapat ditunda dulu memiliki anak kembali, tuntaskan menyusui anak sehingga gizi anak tercukupi,” sebutnya.

 

Sedangkan, stunting pun bukanlah hal baru. Merupakan kondisi kurang gizi kronis dalam waktu lama dan nampak ketika anak berusia 2 (dua) tahun. Sehingga, stunting lebih baik dicegah sejak dalam kandungan sampai usia 2 (dua) tahun.

 

Hal lain yang perlu diperhatikan bagi keluarga, tambahnya adalah pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang berarti periode pengasuhan yang dihitung mulai dari hari pertama ibu mengandung dan terbentuk embrio hingga anak genap 2 (dua) tahun.

 

Kemudian, dalam perhitungan matematis dimulai sejak dari fase kehamilan atau 270 hari hingga anak berusia 2 (dua) tahun atau 730 hari. 1.000 HPK dianggap krusial dan periode kritis. Sebab akan berdampak dalam waktu jangka panjang pada kecerdasan dan kesehatan anak pada masa depan.

 

“Kita mesti gencar sekali, lebih masif lagi menyampaikan hal apa saja yang bisa menyebabkan stunting itu. Paling mendasar, sebaiknya ketika 1.000 HPK mendapat perhatian serius. Pastikan ibu hamil punya gizi yang cukup untuk pemenuhan nutrisi pada bayi,” pungkas Khafid. (adv/cht/pt/kominfokaltim)

Share: