IMG-LOGO
Home News PT Bayan Resource Ajak Pelaku Pariwisata dan Mice Tour Teluk Balikpapan
News

DKP3A Kaltim Gelar Advokasi KIE Kesehatan Reproduksi Remaja

Kegiatan di ikuti oleh siswa dari SMAN 1, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 8, SMK 2, MAN 1 dan MAN 2 Samarinda, Forum Anak Kaltim, Forum Anak Samarinda serta Firum Genre Samarinda
Rabu, 18 Mei 2022
IMG

Kepala DKP3A dalam acara Advokasi KIE di Hotel Grand Victoria Samarinda, Selasa 17 Mei 2022

SAMARINDA, Perempuan.co - Masa remaja adalah masa transisi dari anak menjadi dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja antara usia 9-10 tahun adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi yang biasa disebut dengan masa pubertas. Masa pubertas biasanya ditandai dengan perubahan fisik (bentuk tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa paling penting, berlangsung cepat, tidak beraturan dan bermuara dari perubahan pada sistem reproduksi. Tentunya menjaga kesehatan reproduksi menjadi hal yang wajib untuk dilakukan oleh para remaja.

 

Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Prov. Kaltim, Noryani Sorayalita mengatakan, selain masalah reproduksi masalah stunting juga perlu diperhatikan dan diketahui oleh para remaja.

 

Sebagai informasi, kasus stunting di Kaltim tahun 2019 sebesar 28,09 persen dan tahun 2021 sebesar 22,8 persen atau terjadi penurunan sebesar 5,29 persen.

 

“Yang tertinggi adalah Kutai Timur 27,5 persen, PPU sebanyak 27,3 persen dan Kutai Kertanegara sebanyak 26,4 persen,” ujar Soraya pada acara Advokasi Konseling, Informasi dan Edukasi (KIE) dengan tema “Peningkatan Kesehatan Reproduksi Remaja di Sekolah dalam Upaya Pencegahan Stunting Untuk Menuju Generasi Emas 2045”, berlangsung di Hotel Grand Victoria Samarinda, Selasa (17/5).

 

Melihat data tersebut penting agar remaja mendapatkan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi. Remaja khususnya remaja perempuan yang tidak mendapatkan gizi seimbang dapat menyebabkan anemia. Program penanggulangan anemia pada remaja perempuan sangat penting karena anemia pada remaja perempuan tinggi, kasus perkawinan usia anak (remaja) tinggi, konsumsi zat gizi mikro masih rendah dan remaja perempuan merupakan calon ibu hamil.

 

Soraya berharap, kegiatan ini akan dapat menjadi wadah sosialisasi dan penyampaian informasi terkait dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi dan sekaligus sebagai tindak lanjut untuk melaksanakan Instruksi Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Nomor 5 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

 

“Kemudian sekarang telah terbentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting melalui Surat keputusan Gubernur Nomor 463/K.159/2022 untuk melaksanakan Program Penurunan Stunting tersebut,” imbuh Soraya.

 

Soraya juga menjelaskan, Kaltim telah melakukan sosialisasi masalah penurunan stunting melalui jalur pendidikan melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) sebagai pintu masuk dalam upaya pencegahan penurunan stunting.

 

Kegiatan ini diikuti sebanyak 40 peserta, terdiri dari SMAN 1 Samarinda, SMAN 5 Samarinda, SMAN 6 Samarinda, SMAN 8 Samarinda, SMK 2 Samarinda, MAN 1 Samarinda, MAN 2 Samarinda, Forum Anak Kaltim, Forum Anak Samarinda dan Forum Genre Samarinda. (adv/dkp3akaltim/Prb/ty/kominfokaltim/nrh)

Share: